ellen kusuma | Fellow PANDI ICANN87
Ceritaku20 Oktober 2026

Menavigasi ICANN dengan Privilese

Bahkan dengan privilese saya yang sudah mengikuti isu tata kelola internet selama itu pun, tidak cukup untuk langsung mengerti cara menavigasi ekosistem pengetahuan ICANN dalam pertemuan pertama ini.

3 views· 0 tanggapan
Menavigasi ICANN dengan Privilese

Nyaris 10 tahun saya bergiat di isu tata kelola internet dengan pendekatan multistakeholder, demikian pun ICANN adalah hal yang sama sekali baru. ICANN terlalu teknis untuk saya pelajari sebagai seseorang yang pondasinya adalah sosial-humaniora. Namun, jika bicara tentang pendekatan multistakeholder dalam tata kelola internet, saya secara personal merasa setidaknya perlu memiliki kemampuan memahami hal yang teknis secara mendasar juga agar bisa mengobrol, mengerti, dan membedah sudut pandang dari komunitas teknis.

Hari-hari awal mengikuti kegiatan ICANN—seperti jadwal matrikulasi, judul sesi dimulai dengan "How it works" atau "Get to know"—saya tenggelam dengan banyaknya singkatan yang tidak saya pahami (IROS, IANA, GNSO, dst) atau yang beda rujukannya, seperti PDP yang biasanya saya kenal sebagai pelindungan data pribadi, dalam bahasa ICANNESSE adalah policy development progress.

Yes, ICANNESSE. Semacam ledekan bahwa ICANN memiliki bahasanya sendiri, saking banyaknya singkatan dan istilah yang spesifik digunakan dalam diskusi-diskusi ICANN. Sepanjang sesi yang diikuti pun, para anggota ICANN yang mempresentasikan kerja mereka juga mengamini struggle saat awal-awal mengikuti ICANN. Seperti fase yang harus dan pasti dilalui siapapun yang mengikuti ICANN.

Bahkan dengan privilese saya yang sudah mengikuti isu tata kelola internet selama itu pun, tidak cukup untuk langsung mengerti cara menavigasi ekosistem pengetahuan ICANN dalam pertemuan pertama ini. Privilese yang saya maksud termasuk adanya para senior yang sudah lebih dulu terjun di ICANN, seperti Shita Laksmi yang sudah menjadi anggota APRALO (Asian, Australasian and Pacific Islands Regional At-Large Organization) dan Juliana Harsianti di NCUC (Non-Commercial Users Constituency) dan NCSG (Non-Commercial Stakeholder Group) yaitu pemangku kepentingan di bawah GNSO (Generic Names Supporting Organization). Tapi sejauh ini, semua orang ramah menjawab pertanyaan, bahkan yang tidak berhubungan dengan sesi mereka. Budaya yang tidak mengerdilkan orang-orang yang ingin belajar dan berdiskusi ini sangat terasa dan membantu mendorong partisipasi lebih lanjut.

Salah satu sesi ICANN87 pada 17 Oktober 2026.

By the way, APRALO, NCUC, NCSG itu baru tiga contoh dari banyaknya stakeholder yang ada di dalam ICANN. Menavigasi berbagai bentuk stakeholder yang ada di ICANN dan mekanisme serta kewenangan yang dimiliki masing-masing adalah hal yang berbeda lagi dari menavigasi the ICANNESSE language; yang juga berbeda dengan menavigasi bahasa Inggris atau bahasa-bahasa lain yang digunakan dalam diskusinya. Meski bahasa Inggris menjadi yang dominan, ICANN juga menyediakan berbagai interpreter ke bahasa-bahasa lain dari para peserta ICANN.

Privilese lain yang saya miliki juga adalah akses. Akses pada informasi tentang ICANN dan kegiatannya. Akses pada dukungan finansial yang tersedia, yakni peluang mendapatkan fellowship dari PANDI. Akses bahasa Inggris yang membuat saya mampu langsung bercakap-cakap dengan pihak-pihak yang relevan dalam kerja saya. Lalu, juga akses ketubuhan jasmaniah yang membuat saya dapat hadir langsung di lokasi acara—namun jangan salah, rekan-rekan dengan disabilitas yang terlihat pun hadir, tidak banyak tapi setidaknya saya melihat ada peserta disabilitas netra bersama pendampingnya, juga peserta dengan keterbatasan mobilitas yang menggunakan salah satu tipe kursi roda. Ada, meski perlu diselidik lebih jauh, apa saja yang jadi tantangan untuk menambah partisipasi kelompok disabilitas ataupun kelompok marjinal lainnya agar bisa terlibat dalam ICANN?

Ada banyak privilese yang memungkinkan saya untuk hadir di ICANN87. Sebaliknya, dapat juga dibaca banyak orang yang tidak memiliki privilese untuk tahu, apalagi hadir dan berpartisipasi di ICANN sebagai bagian dari ekosistem tata kelola internet, meski mereka menggunakan internet. Meski demikian, berdasarkan pengamatan pribadi, ICANN juga memberikan berbagai bantuan untuk menciptakan akses yang lebih inklusif, seperti interpreter bahasa, pendanaan fellowship, dokumen yang dibuat publik, informasi yang dibuat setransparan mungkin agar lebih banyak yang dapat berpartisipasi, hingga rapat-rapat yang berlangsung hibrid dan direkam.

Pertanyaan selanjutnya, privilese apalagi yang memungkinkan seseorang mampu mendedikasikan komitmen waktu untuk mengikuti proses-proses diskusi dan pengambilan keputusan di ICANN melebihi dari menghadiri kegiatan public meeting seperti Annual General Meeting ICANN87?

Penting untuk dapat merefleksikan privilese seperti ini, karena meski pendekatan multistakeholder sudah diimplementasikan demi "One World, One Internet" seperti slogan ICANN, ada banyak pihak yang masih belum atau bahkan tidak akan pernah dapat berpartisipasi dalam diskusinya, namun suaranya tetap dapat didengar oleh pihak-pihak yang tersambung dan berpartisipasi di ICANN.

--

PS: Pengalaman pertama saya mengikuti forum internasional tata kelola internasional adalah IGF 2017 di Jenewa (baca laporan saya di sini). Masih relevan dengan situasi saat ini.

#icann#privilese

Tanggapan (0)

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.

Tulis Tanggapan

Tanggapan Anda akan ditinjau oleh guru sebelum tampil publik.

© 2025 | PANDI x UPI | @digitallytante